Minggu, 14 Februari 2010

Nasi Liwet 'Paku Haji'

Kalau mau berkuda di sekitar Lembang, ada tempat alternatif selain De Ranch, yg nggak kalah oke! Namanya Wisata Kuda, Warung Liwet & Out Bond 'Paku Haji'. Lokasi tepatnya di daerah Paku Haji-Cimahi, Bandung Barat. Kuda-kudanya ada yang kecil, ada yang besar. Yang pernah aku pakai untuk shooting adalah kuda dari Jerman yang jg gede banged!:)

Dari namanya ketahuan dong, kalau disitu nggak cuma bisa berkuda, tapi juga out bond dan makan menu andalan; Nasi Liwet!:) Aku & tim waktu kesana juga disuguhi nasi liwet ini. Maknyosss tenan!! hehe.... (makasih, ya Pak Iman!:> ).



(Nasi Liwet 'Paku Haji')



Buat yang mau menginap, disini juga ada penginapannya. Meskipun lokasinya agak terpencil, tapi ternyata sudah banyak juga loh, yang berkunjung...terlihat dari dokumentasi foto yang ditempel di deket office nya. Pemilik dan pengelolanya baik bangeett!! Mau shooting, ijin nggak ribet. Saat shooting, juga nggak diribetin dan malah disuguhin itu tadi, nasi liwet dan aneka kue tradisional! Kalau nggak inget lagi pengen diet, rasanya bisa tuh ngabisin separuhnya! hehe...

Setahuku, Lokasi ini milik pribadi. Jaman sekarang ya....tempat rekreasi pun bisa dipunyai per-orangan. Indonesia sejahtera? Amiinn :)

Jumat, 01 Januari 2010

CANTIKNYA DRINI....

Yogyakarta adalah tujuan wisata yang komplit! Di sana anda bisa berwisata budaya, seni, sejarah, pendidikan, kuliner, belanja, dan alam. Anda bisa merasakan dinginnya udara pegunungan di Kaliurang, atau menikmati hangatnya matahari pantai selatan. Semuanya bisa dijangkau dalam sehari, kalau anda mau, karena jarak satu lokasi ke lokasi yang lainnya berdekatan, plus tidak macet seperti Jakarta!:)


Salah satu pantai yang ada di deretan pantai selatan di kabupaten Gunungkidul adalah PANTAI DRINI. Posisinya berada di timur tiga pantai terkenal disana; Baron, Kukup, Krakal. Pantai Drini ini bersih, sepi, dan tentu saja indah! Pasir putih kecoklatan, air jernih menampakkan karang, dan langit biru tanpa awan. What a wonderful place! Teman saya bahkan bilang kalau pantai ini lebih indah dari pantai Senggigi, Lombok. Hemm..... :)




Kalau anda mau beli ikan segar atau rajungan, silakan datang pagi ke bagian barat pantai ini, karena ada pelelangan ikan di sana.

Kalau anda bersabar menanti sore di pantai Drini, anda bisa menyeberang ke pulau kecil di hadapan pantai ini, dengan berjalan kaki. Bayangin, nyeberang laut jalan kaki, maann!! hehe...airnya surut soalnya :p

Pantai Drini nggak kalah cantik dengan pantai2 di Bali. Memang belum ada fasilitas berwisata yang memadai, seperti olah raga air misalnya, tapi yakin deh, lima atau sepuluh tahun lagi, pantai ini akan jadi salah satu 'most wanted' tujuan wisata di Jogja. Jadi, sambil menunggu semua itu terwujud, sering2 yaaa...main kesanaaa...tetap jaga kebersihan pantai tapinya, yah!:)

*cinta pantai-pantai Indonesia!!*

BENTENG VAN DER WIJK - GOMBONG

Kalau anda mengira Farah Quinn sedang shooting di bangunan tua di Itali, anda salah! (hehe..sapa juga yg mengira begitu? lebay!:p )

Lokasi di atas adalah sisi dalam sebuah benteng yang sudah berusia 192 tahun di Jl. Sapta Marga no. 100, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Eksotis, ya?! Kepikiran bikin pre-wedd disini? hohoho.... boleh..boleh, anda tinggal menghubungi pengelola yang kantornya di dekat gerbang masuk kawasan benteng ini. Tapi sangat disarankan anda berwisata saja. Karena selain bisa mengagumi arsitektur bangunan benteng yang berpintu dan berjendela puluhan dengan dinding2 tebal dan lorong2 yang seolah tak berujung itu, anda bisa juga naik kereta api mini di atas benteng dan main air di waterpark yang ada di depan benteng. Tambah juga pengetahuan anda tentang siapa saja Pangdam atau Bupati yang pernah memerintah di daerah sana, karena foto dan nama mereka tertera jelas di ruangan2 tertentu. Jangan lupa beli aneka souvenir di sepanjang jalan keluar kawasan ini, supaya pedagangnya senang. Anda senang, mereka senang, semua senaangg!! :)

Sabtu, 07 Februari 2009

Puncakmu 'Tlah Kudaki!!! hehe...

Gunung Galunggung. Udah dari SD, nama gunung ini familiar banget di telinga, tapi baru pas bareng sama tim Koper & Ransel aku bisa menjejakkan kaki di sana!:) Nggak kerasa, momen itu pun sudah hampir dua tahun yang lalu.


Gerbang masuk ke obyek wisata gunung Galunggung ini berada jauh banget dari anak tangga yang menuju puncak gunungnya. Kalau nggak pakai kendaraan pribadi, mungkin bisa memanfaatkan jasa ojek yang mangkal di situ. Ketika sudah berada benar2 di kaki gunung, ada dua pilihan jalan menuju puncaknya : melalui ratusan anak tangga atau menapaki jalan setapak berpasir dan bersemak. Dua-duanya punya sensasi berbeda, yang satu bikin puyeng...yang satu bikin kepleset! hehe..becanda! Tar kalau sudah di atas, semua capek bakal terbayar dengan pemandangan uuiinndahhh kawah galunggung dan gunung galunggung itu sendiri!


O,iya..ada dua hal yang bikin aku heran : pertama, di tengah kawah galunggung ada daratan yang membentuk pulau gitu, katanya bisa buat camping, cuma gimana kesananya ya?? kedua, jalanan di puncak galunggung sudah di aspal. Kira2, gmn bawa mobil silinder yg dulu ngalusin jalanannya, ya??

Kawah G. Galunggung dan 'pulau' ajaibnya...


Tasikmalaya dr Galunggung

Mbak2 yg berhasil naik!

Mbak2nya sendirian..hehe

Mbak2nya sama rombongan....

Sabtu, 27 Desember 2008

CANTIK - UNIK - MAGIC!

DESA KETE’ KESU-TANA TORAJA

Ada banyak desa adat yang menjadi tujuan wisata di Tana Toraja, salah satunya desa Kete’ Kesu. Look desa ini pasti gak asing lagi, soalnya emang sering banget diekspose, baik untuk tayangan tv, gambar di kalender, postcard ataupun brosur wisata.
Hemm..jadi bingung mo mulai cerita dari bagian mana...fotonya gk kumplit pula! uhuhu...

(Bareng Anak2 desa Kete' Kesu - background lumbung padi)

Jadi, desa adat di Toraja punya aturan2 umum antara lain, menghadap ke utara, karena dari sanalah nenek moyang mereka berasal. Setiap rumah akan berhadapan dengan lumbung padi (berarti semua lumbung menghadap selatan, ya sodara2!:p). Uniknya, rumah adat (disebut tongkonan) dan lumbung2 itu terbuat dari kayu semua dan awet hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Tiap2 bagian yang membentuk bangunan itu hanya diikat dengan tali. Kok bisa kokoh berdiri, ya? How come?!

(With Raka, di jalan masuk Kete' Kesu. Sayang, gak tampak depan..hiks..)

Di setiap rumah, ada tanduk2 kerbau yang dipajang. Jumlahnya macem2 tergantung sudah berapa banyak kerbau yang mereka sembelih untuk upacara adat. Kalau banyak, itu tandanya si empunya adalah orang kaya. Selipan info nih : di Toraja, hewan favorit untuk upacara adat adalah kerbau. Dan kerbau yang mahal adalah kerbau bule, kerbau yang warna kepala atau sebagian tubuhnya tidak hitam/abu2 tetapi putih kemerahan. Katanya, bisa puluhan bahkan ratusan juta loh harganya! Kalau pas hari pasaran, kita bisa lihat kerbau2 mahal itu dipajang untuk diperjualbelikan.

(di depan salah satu tongkonan 'bertanduk' banyak - Kete' Kesu)

Di bagian belakang desa Kete’ Kesu, sekitar 200 meter, ada bukit yang dijadikan kuburan bagi orang2 mereka lengkap dengan boneka2 tiruannya yg disebut Tau Tau (Humm, akhirnya aku bisa juga sampai ke tempat yang dulu di datengi Ryani Djangkaru bareng Jejak Petualangnya... yg dulu cuma kulihat di tv...thanks God! That’s what i said to my self... Norak dikit gak papa lah..hohoho)

(Yaaaahh..yg keliatan krunya, bukan kuburan batunya...)

Mungkin karena kerap dikunjungi, lokasi itu gak serem kok. Sedikit terasa magis, iya..tapi beneran, gak nakutin! Yang ada cuma kagum, itu gimana caranya orang jaman dulu bikin lobang di dinding yang tinggi dengan kemiringan nyaris 90 derajat...itu gimana tulang2 bertumpukkan tapi kok gak dimakan hewan dan gak bau....itu gimana patung2 / boneka2 tiruan leluhur yang sudah meninggal kok tetap awet...itu gimana......ck..ck..ck...

***
Kalau mau beli souvenir di desa ini, kita gak perlu susah, karena penduduknya jugalah yang berjualan di sekitar lokasi. Ada aksesoris, hiasan dinding, kaos, patung kayu, bahkan kopi Toraja!;)

Sebelum ganti lokasi : desa ini punya forground pemandangan sawah yang oks banget! Meskipun di sekitar rumahku jg ada sawah, tp yang ini bener2 jadi satu paduan landscape yang ouuwkeeyy bangettts!!:D (gak punya fotonyaaaaa....hiks.. hiks 1000x)


KALIMBUANG BORI’ (kompleks Menhir & Kuburan batu)

Lokasinya ada di 5 km arah utara kota Rantepao. Jalan menuju kesana sudah di aspal tapi tidak terlalu lebar. Sepanjang jalan pemandangannya indaaahh banget. Dan begitu sampai lokasi, nuansa magis mulai terasa....sepi...sejuk...
Tapi teteupp...keindahan lokasinya bisa ngilangin semua aura ‘seram itu, kok!
Di sini ada banyak menhir. Ukurannya macem2, paling tinggi sekitar 3 meter. FYI, batu2 tsb dibawa dari gunung dan 'ditanam' sedemikian rupa hingga msh kokoh sampe sekarang. Punya kekuatan apa ya, orang jaman dulu?! Belom lagi kalau liat 'goa' dari batu besar yg dipahat-dilubangi utk kuburan, pasti bakal tambah kagum, soalnya mereka melakukannya manual loh, gak pake mesin!! Butuh waktu tahunan untuk hal itu.

(Belakang menhir, depan kuburan batu....hiiyyy!!)


DESA TRADISIONAL PALLAWA

Desa ini merupakan desa adat. Nuansanya mirip dengan Kete’ Kesu. Cuma secara look (halah..) memang lebih indah Kete’ Kesu, menurutku. Yang menarik waktu kami kesana adalah adanya jenazah yang sudah setahun meninggal dan masih disimpan di dalam rumah. Bagi orang Toraja, upacara pemakaman memang istimewa. Jadi kalau memang pihak keluarga yang meninggal belum siap, jenazah bisa diawetkan hingga mereka mampu membuat upacara pemakamannya.

DESA SA’DAN TO’BARANA

(Salah satu sudut ds. Sa'dan To'barana)

Desa ini merupakan salah satu pusat tenun tradisional. Penenunnya semua wanita, dari mulai ibu-ibu sampai nenek2. Mereka masih menggunakan bahan dan alat menenun tradisional. Pewarnanya pun demikian, masih menggunakan pewarna dari kulit pohon atau tanaman2 tertentu. View di desa ini jg bagus. Ada sungai kecil yg melintas di tepi tongkonan (rumah adat) terluar. Jadi gak salah kalo aku pun pose2 di sini hohoho....narsis euy! :D



(Suka deeehh, kliatan tinggi!! hehehe...)

Sepertinya kompleks tongkonan di desa ini adalah peninggalan keluarga orang berada (keturunan bangsawan), karena tongkonannya besar2 dan potongan tanduk kerbaunya juga banyak. Yang jelas, di desa ini aku dapat ‘saudara’ baru, yaitu ibu yang jg bekerja di Dinpar Toraja. Kenapa sodara? Karena beliau satu2nya orang asli Toraja namun muslim yang kutemui di sana:) Bahkan beliau menawarkan rumahnya untuk disinggahi kapanpun aku bisa ke Toraja lagi. Duh, jd terharu....

Kamis, 25 Desember 2008

APA KAREBA, MAKASSAR?!

Kota-kota di luar pulau Jawa, ternyata tidak sesepi yang kukira. Makassar contohnya. Kota ini menjadi tempat transit yg ideal bagi mereka yg ingin bepergian ke Indonesia bagian timur lainnya, baik lewat transportasi laut maupun udara. Kota yang terus membangun diri untuk menjadi tujuan wisata utama di Indonesia bagian timur ini, terlihat ramai dan nyaris metropolis. Bahkan dapet bocoran dari orang Dinas Pariwisatanya, kota Makassar menjadikan Bali dan Jogja sebagai contoh dalam membangun pariwisata mereka. Lumayan kelihatan sih, misalnya saja, nama-nama jalan di kota ini mirip banget dengan model tulisan dan bentuk papan-tiang yang digunakan di Jogja. Lalu, pertokoan, tempat makan dan penginapan di sepanjang tepi Pantai Losari, sepertinya mengiblat pada suasana di Kuta-Bali. It’s oke, gak ada yang salah dengan mencontoh hal-hal baik, bukan? So, let we start to talk about the tourism places here!;)


‘TERBIT – TENGGELAM’ DI PANTAI LOSARI


Ini dia pantai yang paling terkenal di Sulawesi Selatan. Letaknya benar2 ada di pusat kota Makassar. Pantainya agak curam dan berbatasan langsung dengan jalan raya. Kaya Ancolnya Jakarta gitu lah.. Cuma di sini lebih bersih dan gratis pula, karena benar2 di pinggir jalanan kota. Siapa yang lewat, boleh melihat :).
Di tepi pantai ini dibangun juga semacam ‘pelataran’ luas yang menjadi titik sentral kegiatan di Pantai Losari ini. Pertunjukkan seni juga sering digelar di sini. Makanya waktu kami diberi fasilitas untuk shooting tarian adat oleh Dinpar Makassar, kami memilih anjungan/pelataran ini sebagai lokasinya. Strategis dan representatif! Banyak anak muda nongkrong, orang tua momong anak, atau rombongan wisatawan yang menanti sunset di sini. O, iya...di Pantai ini, kita bisa lihat Sunrise dan Sunset dari tempat yang sama loh! Tapi tentu saja, dg waktu yg berbeda, ya!:p

(Anjungan Pantai Losari)
(Senja di Losari..)

Ada juga restoran terapung di sini. Maksudnya adalah restoran yang lokasinya di atas kapal atau bangunan di atas air. Pokoknya dijamin gak laper deh, karena banyak juga penjaja makanan di tepi jalan. Dan yang most wanted banget pastinya adalah Pisang Epe! Manis! Enaaakk tenaaann!! :D
Kalau mau belanja oleh-oleh souvenir, jl. Somba Opu memang bisa diandalkan, tapi siap-siap kenceng nawar ya...lumayan mahal2 soalnya. Yang dijual antara lain : Emas (jangan beli lah, kan tujuannya berwisata, bukan investasi hehe), aksesoris kerajinan tradisional, tas-kopiah-baju-sarung, dll. Untuk kuliner ‘besar’, kota Makassar kaya dg menu seafoodnya. RM Lae Lae adalah referensi paling populer yg boleh dicoba. Seimbang antara harga dan rasanya :).

Untuk hotel dan penginapan, jangan khawatir. Seperti yg aku bilang tadi bahwa kota ini meniru suasana tepi pantai di Bali, maka di sepanjang tepi Pantai Losari pun banyak berdiri hotel2 berbintang dg view laut sebagai andalannya. Kalau gak kebagian, hotel di tengah kota jg banyak kok! Waktu shooting episode ini, kami menginap di hotel Imperial Aryaduta Hotel , Jl. Somba Opu No. 297 Makassar, Telp. 0411 – 870555. Hotelnya tergolong baru, bagus, nyaman dan seberangnya langsung pantai Losari.

(Kolam renang hotel Imperial)


BENTENG FORT ROTTERDAM

Situs sejarah yang juga ikon kota Makassar. Benteng ini dekat dengan laut, karena dulunya memang berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh yang datang dari arah laut. Bentengnya terawat dan beberapa bangunan di dalamnya difungsikan untuk kegiatan masyarakat seperti ruang pelatihan bahasa inggris, perpustakaan, dll. Aku pikir ini ide bagus daripada bangunannya gak terjamah dan jadi angker, ya to?! Kalau difungsikan gitu kan malah bermanfaat. Ada museum La Galigo jg di dalamnya. Bagian yang paling aku suka dari benteng ini adalah bagian depan atas, dimana sisa2 tembok yang begitu kokoh melindungi benteng ini masih ada. Dari situ kita bisa melihat laut lepas dan Pulau Kayangan yang juga menjadi obyek wisata andalan. Alasan lainnya adalah, sisa2 tembok itu terlihat eksotis! Hehe... Keren gitu buat background poto-poto! Kaya’ di majalah! Hahaha.... :p (sayangnya gk sempet minta foto2 yg di kamera temen..hiks..)


PULAU SAMALONA

Namanya gak asing kan? Karena ada judul lagu yang pake nama pulau ini. Lagunya sapa ya? Browsing sendiri, mau kan? Hehe....
Kami memang tidak memilih P. Kayangan untuk dikunjungi (di shooting) waktu itu. Pertimbangannya adalah ingin mencari lokasi lain yang masih jarang dikunjungi biar pemirsa gak bosen. Akhirnya dengan bantuan bapak2 dari Dinpar, kami bisa menyewa speedboat ke pulau Samalona. Sewanya waktu itu 1 juta rupiah PP. Waktu tempuh dari Pelabuhan Khayangan sekitar 45 menit saja. Sebentar tapi lumayan bikin jantung berdesir! Mungkin karena speedboat melaju kencang beradu dengan ombak yang rada besar plus ‘bertemu’ dengan kapal2 suepeerrr guedeee lagi mangkal (?). Ugh! Berasa keciilll banget jd manusia. Yang aku ‘rutuki’ saat itu adalah; kenapa aku gak pernah niat belajar renang?! Jadi kan gak perlu khawatir banget kl sedang ada di laut gitu...hiks...
***
Benar saja, begitu akan merapat ke P. Samalona, ikan2 di dasar laut sudah menyambut. Suer! Indah banget!! Air biru kehijauan yang jernih banget itu membebaskan mata ini untuk melihat semua ikan yang ada. Huh...sekali lagi aku menyesal, kenapa gak bisa renang?! :(

Kami segera melintasi pulau ini mencari sudut yang dirasa paling indah, sepi dan enak buat shooting. Maklum, meskipun ‘jauh’ dari peradaban kota, pulau ini juga banyak penghuninya dan banyak pula turis yang stay nyewa rumah untuk beberapa waktu di sana. Jadi pas ‘melintas’ di pulau ini, turis2 itu melambai ramah ke kami (hehehe...berasa artis deeehhh!! Padahal melambainya ke Host kami yg emang artis beneran, hahaha!!).
Melintasi pulau ini gak butuh banyak waktu, wong Cuma kecil kok. Berapa ya luasnya? Satu hektaran mungkin. Kecil kan, utk ukuran sebuah pulau berpenghuni?!
Nah, akhirnya, jadilah host cewek (Trianita) kami minta snorkling di sini. Warga juga nyewain sepatu katak dan alat snorkel loh, 30 ribu satu paketnya. O,iya..sebenarnya ada lagi yang dituju wisatawan di pulau ini, yaitu pohon besar dan makam..siapaaa gitu. Tapi aku sih gak rekomen. Lebih baik nikmati aja pasir putih dan laut birunya, dah! Hehe...

Note : maapppp banget, foto2 gak ada, alasan silakan diliat di postingan "Prolog for Celebes". Nanti kl aku ada waktu cari2 di koleksi temen yg bareng ke sana, pasti aku upload-in deh;)

Kamis, 20 November 2008

PROLOG FOR CELEBES

I'm back!!:)


Ini kenangan hampir dua tahun yang lalu, saat aku, untuk pertama kalinya jalan dengan tim Koper & Ransel. Yang waktu itu bikin sedikit 'shock' adalah, shootingnya langsung ke luar pulau Jawa aja gituuw...ke Sulawesi Selatan dan Tenggara. Duh..duuuhh....sama sekali gak kebayang medannya bakal seperti apa :((


Untunglah, apa yang ditakutkan tidak terjadi. Semua berjalan lancar, dari mulai survey hingga shootingnya. Tidak serumit yang ditakutkan. Ternyata, diri ini menjadi 'cerdas' sendiri di lapangan. Menjadi sangat inisiatif dan cerdik mencari jalan keluar semua persoalan. Menjadi sangat 'brilian' dalam mencari akal. Satu pelajaran berharga : diri kita ini pada dasarnya mandiri dan bisa diandalkan!;>





Planning.



Survey akan aku lakukan bareng sama Campers (mas Ilham) di Sulsel dulu-baru ke Sulra, dan bertemu dg anggota tim yg menyusul kemudian di sana. So, pagi pertama yg kami lakukan setibanya di bandara Hasanuddin, Makassar adalah langsung menuju ke Tana Toraja. Menuju ke yang jauh dulu, begitu pikir kami.



Survey.




Perjalanan dari Makassar ke Toraja memakan waktu sekitar 7-8 jam dengan mobil. Jadi, ketika kami sampai di Toraja, udah hampir maghrib. Survey pun cm bisa dilakukan di desa Kete' Kesu. Cari izin dan info sedikit, trus langsung cari penginapan di tengah kota Rantepao ('ibu kota'nya Toraja). Yang paling populer sih Hotel Indra (ada Indra I dan II). Bukan hotel berbintang, tapi lumayan lah buat istirahat. Hotelnya tingkat dua, nuansanya bambu-bambu gitu. Keluar kamar langsung taman terbuka. O,ya...udara di Toraja tergolong dingin karena dikelilingi pegunungan. Jadi, prepare baju hangat ya!:)



***



Esok harinya, kami langsung geber beberapa lokasi yang udah aku list untuk disurvey dan diambil stockshotnya sama mas Ilham. 'Stereotip' tiap lokasinya sih hampir sama, batu-batuan, simbol keagamaan, leluhur atau mistis! Tentang lokasi2 ini, aku ceritain di judul lain ya..!!



***



Sore hari, kami langsung balik ke Makassar lagi, biar gak wasting time dg perjalanan yg berjam-jam itu. Sampe di Makasar sekitar jam 1 dini hari. Apesnya, hotel2 yg lumayan, pada fullbook! Sapa aja sih, yang nginep??! Akhirnya kami dapet nginep di hotel Angin Mamiri. Hotelnya lumayan...tingkat tiga ato empat gitu, tapi tanpa lift! Bayangkan beratnya ngangkat koperku dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya, karena berisi baju2 dan perlengkapan untuk 12 hari!! Belom lagi kamarnya yg terasa aneh. Maksudku, apa yg salah ya..kamar besar, tapi kok berasa sempit banget!? Apa furniturnya yg salah ukuran? atau tata letaknya? Pokoknya sempiiit aja, padahal interiornya lumayan loh.




***


Pagi harinya, survey Sulsel di mulai. Seperti biasa, kami mulai dari yg jauh dulu, spt ke daerah Bulukumba. Asli, cakep pantainya, cuma jauuhh!! 4 jam perjalanan dg kondisi jalan yg waktu itu separuhnya rusak! Cuma maap, nanti gak ada foto2 pantai Bulukumba yg berair biru dan berpasir selembut tepung, karena HP ku yg buat foto2 di Sulsel-Sulra itu rusak...lalu file2nya hilang...hiks :(( Jadi foto2 yg nanti ada adalah hasil ngopy dari punyanya mba Ifa, my Assprod.

Hari berikutnya yg cuma tinggal setengah (karena hrs ngejar pesawat 'kecil' menuju Kendari), kami gunakan utk survey dan stockshot kota Makassar dan sekitarnya yg deket2.


***

Sampainya di Kendari, yg kami lakukan adalah cari penginapan karena hari telah beranjak malam, jd gak mungkin survey lokasi. Ternyata lumayan 'sulit', karena Kendari adalah kota kecil. Gak bermaksud cari hotel mewah sih, cm lebih berhati2 aja...takut dpt hotel 'nakal' hahaha.. (ada pengalaman 'unik' tersendiri ttg ini di Makassar, yg gak mungkin dicritain gamblang. Yg jelas, jgn tergiur harga hotel murah kl hasilnya kita jd gak tenang istirahat! Secara ya, kamar sebelah ajeb2 dg suara obrolan cowok - cewek cekikikan gitu..gmn bs tenang coba?! huehehe.... NOTE : bukan di Angin Mamiri, tp satu hotel 'aneh' lg yg kami inapi sekembalinya dr survey Toraja).


Pagi harinya, kami survey Kendari...tentu saja dr lokasi yg jauh dulu...
Emm...nama2 lokasi banak udah lupa nih, harus buka2 catetan dulu :p
Ya wis, langsung aja baca2 critanya en liat poto2naaa !!! :D