Sabtu, 07 Februari 2009

Puncakmu 'Tlah Kudaki!!! hehe...

Gunung Galunggung. Udah dari SD, nama gunung ini familiar banget di telinga, tapi baru pas bareng sama tim Koper & Ransel aku bisa menjejakkan kaki di sana!:) Nggak kerasa, momen itu pun sudah hampir dua tahun yang lalu.


Gerbang masuk ke obyek wisata gunung Galunggung ini berada jauh banget dari anak tangga yang menuju puncak gunungnya. Kalau nggak pakai kendaraan pribadi, mungkin bisa memanfaatkan jasa ojek yang mangkal di situ. Ketika sudah berada benar2 di kaki gunung, ada dua pilihan jalan menuju puncaknya : melalui ratusan anak tangga atau menapaki jalan setapak berpasir dan bersemak. Dua-duanya punya sensasi berbeda, yang satu bikin puyeng...yang satu bikin kepleset! hehe..becanda! Tar kalau sudah di atas, semua capek bakal terbayar dengan pemandangan uuiinndahhh kawah galunggung dan gunung galunggung itu sendiri!


O,iya..ada dua hal yang bikin aku heran : pertama, di tengah kawah galunggung ada daratan yang membentuk pulau gitu, katanya bisa buat camping, cuma gimana kesananya ya?? kedua, jalanan di puncak galunggung sudah di aspal. Kira2, gmn bawa mobil silinder yg dulu ngalusin jalanannya, ya??

Kawah G. Galunggung dan 'pulau' ajaibnya...


Tasikmalaya dr Galunggung

Mbak2 yg berhasil naik!

Mbak2nya sendirian..hehe

Mbak2nya sama rombongan....

Sabtu, 27 Desember 2008

CANTIK - UNIK - MAGIC!

DESA KETE’ KESU-TANA TORAJA

Ada banyak desa adat yang menjadi tujuan wisata di Tana Toraja, salah satunya desa Kete’ Kesu. Look desa ini pasti gak asing lagi, soalnya emang sering banget diekspose, baik untuk tayangan tv, gambar di kalender, postcard ataupun brosur wisata.
Hemm..jadi bingung mo mulai cerita dari bagian mana...fotonya gk kumplit pula! uhuhu...

(Bareng Anak2 desa Kete' Kesu - background lumbung padi)

Jadi, desa adat di Toraja punya aturan2 umum antara lain, menghadap ke utara, karena dari sanalah nenek moyang mereka berasal. Setiap rumah akan berhadapan dengan lumbung padi (berarti semua lumbung menghadap selatan, ya sodara2!:p). Uniknya, rumah adat (disebut tongkonan) dan lumbung2 itu terbuat dari kayu semua dan awet hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Tiap2 bagian yang membentuk bangunan itu hanya diikat dengan tali. Kok bisa kokoh berdiri, ya? How come?!

(With Raka, di jalan masuk Kete' Kesu. Sayang, gak tampak depan..hiks..)

Di setiap rumah, ada tanduk2 kerbau yang dipajang. Jumlahnya macem2 tergantung sudah berapa banyak kerbau yang mereka sembelih untuk upacara adat. Kalau banyak, itu tandanya si empunya adalah orang kaya. Selipan info nih : di Toraja, hewan favorit untuk upacara adat adalah kerbau. Dan kerbau yang mahal adalah kerbau bule, kerbau yang warna kepala atau sebagian tubuhnya tidak hitam/abu2 tetapi putih kemerahan. Katanya, bisa puluhan bahkan ratusan juta loh harganya! Kalau pas hari pasaran, kita bisa lihat kerbau2 mahal itu dipajang untuk diperjualbelikan.

(di depan salah satu tongkonan 'bertanduk' banyak - Kete' Kesu)

Di bagian belakang desa Kete’ Kesu, sekitar 200 meter, ada bukit yang dijadikan kuburan bagi orang2 mereka lengkap dengan boneka2 tiruannya yg disebut Tau Tau (Humm, akhirnya aku bisa juga sampai ke tempat yang dulu di datengi Ryani Djangkaru bareng Jejak Petualangnya... yg dulu cuma kulihat di tv...thanks God! That’s what i said to my self... Norak dikit gak papa lah..hohoho)

(Yaaaahh..yg keliatan krunya, bukan kuburan batunya...)

Mungkin karena kerap dikunjungi, lokasi itu gak serem kok. Sedikit terasa magis, iya..tapi beneran, gak nakutin! Yang ada cuma kagum, itu gimana caranya orang jaman dulu bikin lobang di dinding yang tinggi dengan kemiringan nyaris 90 derajat...itu gimana tulang2 bertumpukkan tapi kok gak dimakan hewan dan gak bau....itu gimana patung2 / boneka2 tiruan leluhur yang sudah meninggal kok tetap awet...itu gimana......ck..ck..ck...

***
Kalau mau beli souvenir di desa ini, kita gak perlu susah, karena penduduknya jugalah yang berjualan di sekitar lokasi. Ada aksesoris, hiasan dinding, kaos, patung kayu, bahkan kopi Toraja!;)

Sebelum ganti lokasi : desa ini punya forground pemandangan sawah yang oks banget! Meskipun di sekitar rumahku jg ada sawah, tp yang ini bener2 jadi satu paduan landscape yang ouuwkeeyy bangettts!!:D (gak punya fotonyaaaaa....hiks.. hiks 1000x)


KALIMBUANG BORI’ (kompleks Menhir & Kuburan batu)

Lokasinya ada di 5 km arah utara kota Rantepao. Jalan menuju kesana sudah di aspal tapi tidak terlalu lebar. Sepanjang jalan pemandangannya indaaahh banget. Dan begitu sampai lokasi, nuansa magis mulai terasa....sepi...sejuk...
Tapi teteupp...keindahan lokasinya bisa ngilangin semua aura ‘seram itu, kok!
Di sini ada banyak menhir. Ukurannya macem2, paling tinggi sekitar 3 meter. FYI, batu2 tsb dibawa dari gunung dan 'ditanam' sedemikian rupa hingga msh kokoh sampe sekarang. Punya kekuatan apa ya, orang jaman dulu?! Belom lagi kalau liat 'goa' dari batu besar yg dipahat-dilubangi utk kuburan, pasti bakal tambah kagum, soalnya mereka melakukannya manual loh, gak pake mesin!! Butuh waktu tahunan untuk hal itu.

(Belakang menhir, depan kuburan batu....hiiyyy!!)


DESA TRADISIONAL PALLAWA

Desa ini merupakan desa adat. Nuansanya mirip dengan Kete’ Kesu. Cuma secara look (halah..) memang lebih indah Kete’ Kesu, menurutku. Yang menarik waktu kami kesana adalah adanya jenazah yang sudah setahun meninggal dan masih disimpan di dalam rumah. Bagi orang Toraja, upacara pemakaman memang istimewa. Jadi kalau memang pihak keluarga yang meninggal belum siap, jenazah bisa diawetkan hingga mereka mampu membuat upacara pemakamannya.

DESA SA’DAN TO’BARANA

(Salah satu sudut ds. Sa'dan To'barana)

Desa ini merupakan salah satu pusat tenun tradisional. Penenunnya semua wanita, dari mulai ibu-ibu sampai nenek2. Mereka masih menggunakan bahan dan alat menenun tradisional. Pewarnanya pun demikian, masih menggunakan pewarna dari kulit pohon atau tanaman2 tertentu. View di desa ini jg bagus. Ada sungai kecil yg melintas di tepi tongkonan (rumah adat) terluar. Jadi gak salah kalo aku pun pose2 di sini hohoho....narsis euy! :D



(Suka deeehh, kliatan tinggi!! hehehe...)

Sepertinya kompleks tongkonan di desa ini adalah peninggalan keluarga orang berada (keturunan bangsawan), karena tongkonannya besar2 dan potongan tanduk kerbaunya juga banyak. Yang jelas, di desa ini aku dapat ‘saudara’ baru, yaitu ibu yang jg bekerja di Dinpar Toraja. Kenapa sodara? Karena beliau satu2nya orang asli Toraja namun muslim yang kutemui di sana:) Bahkan beliau menawarkan rumahnya untuk disinggahi kapanpun aku bisa ke Toraja lagi. Duh, jd terharu....

Kamis, 25 Desember 2008

APA KAREBA, MAKASSAR?!

Kota-kota di luar pulau Jawa, ternyata tidak sesepi yang kukira. Makassar contohnya. Kota ini menjadi tempat transit yg ideal bagi mereka yg ingin bepergian ke Indonesia bagian timur lainnya, baik lewat transportasi laut maupun udara. Kota yang terus membangun diri untuk menjadi tujuan wisata utama di Indonesia bagian timur ini, terlihat ramai dan nyaris metropolis. Bahkan dapet bocoran dari orang Dinas Pariwisatanya, kota Makassar menjadikan Bali dan Jogja sebagai contoh dalam membangun pariwisata mereka. Lumayan kelihatan sih, misalnya saja, nama-nama jalan di kota ini mirip banget dengan model tulisan dan bentuk papan-tiang yang digunakan di Jogja. Lalu, pertokoan, tempat makan dan penginapan di sepanjang tepi Pantai Losari, sepertinya mengiblat pada suasana di Kuta-Bali. It’s oke, gak ada yang salah dengan mencontoh hal-hal baik, bukan? So, let we start to talk about the tourism places here!;)


‘TERBIT – TENGGELAM’ DI PANTAI LOSARI


Ini dia pantai yang paling terkenal di Sulawesi Selatan. Letaknya benar2 ada di pusat kota Makassar. Pantainya agak curam dan berbatasan langsung dengan jalan raya. Kaya Ancolnya Jakarta gitu lah.. Cuma di sini lebih bersih dan gratis pula, karena benar2 di pinggir jalanan kota. Siapa yang lewat, boleh melihat :).
Di tepi pantai ini dibangun juga semacam ‘pelataran’ luas yang menjadi titik sentral kegiatan di Pantai Losari ini. Pertunjukkan seni juga sering digelar di sini. Makanya waktu kami diberi fasilitas untuk shooting tarian adat oleh Dinpar Makassar, kami memilih anjungan/pelataran ini sebagai lokasinya. Strategis dan representatif! Banyak anak muda nongkrong, orang tua momong anak, atau rombongan wisatawan yang menanti sunset di sini. O, iya...di Pantai ini, kita bisa lihat Sunrise dan Sunset dari tempat yang sama loh! Tapi tentu saja, dg waktu yg berbeda, ya!:p

(Anjungan Pantai Losari)
(Senja di Losari..)

Ada juga restoran terapung di sini. Maksudnya adalah restoran yang lokasinya di atas kapal atau bangunan di atas air. Pokoknya dijamin gak laper deh, karena banyak juga penjaja makanan di tepi jalan. Dan yang most wanted banget pastinya adalah Pisang Epe! Manis! Enaaakk tenaaann!! :D
Kalau mau belanja oleh-oleh souvenir, jl. Somba Opu memang bisa diandalkan, tapi siap-siap kenceng nawar ya...lumayan mahal2 soalnya. Yang dijual antara lain : Emas (jangan beli lah, kan tujuannya berwisata, bukan investasi hehe), aksesoris kerajinan tradisional, tas-kopiah-baju-sarung, dll. Untuk kuliner ‘besar’, kota Makassar kaya dg menu seafoodnya. RM Lae Lae adalah referensi paling populer yg boleh dicoba. Seimbang antara harga dan rasanya :).

Untuk hotel dan penginapan, jangan khawatir. Seperti yg aku bilang tadi bahwa kota ini meniru suasana tepi pantai di Bali, maka di sepanjang tepi Pantai Losari pun banyak berdiri hotel2 berbintang dg view laut sebagai andalannya. Kalau gak kebagian, hotel di tengah kota jg banyak kok! Waktu shooting episode ini, kami menginap di hotel Imperial Aryaduta Hotel , Jl. Somba Opu No. 297 Makassar, Telp. 0411 – 870555. Hotelnya tergolong baru, bagus, nyaman dan seberangnya langsung pantai Losari.

(Kolam renang hotel Imperial)


BENTENG FORT ROTTERDAM

Situs sejarah yang juga ikon kota Makassar. Benteng ini dekat dengan laut, karena dulunya memang berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh yang datang dari arah laut. Bentengnya terawat dan beberapa bangunan di dalamnya difungsikan untuk kegiatan masyarakat seperti ruang pelatihan bahasa inggris, perpustakaan, dll. Aku pikir ini ide bagus daripada bangunannya gak terjamah dan jadi angker, ya to?! Kalau difungsikan gitu kan malah bermanfaat. Ada museum La Galigo jg di dalamnya. Bagian yang paling aku suka dari benteng ini adalah bagian depan atas, dimana sisa2 tembok yang begitu kokoh melindungi benteng ini masih ada. Dari situ kita bisa melihat laut lepas dan Pulau Kayangan yang juga menjadi obyek wisata andalan. Alasan lainnya adalah, sisa2 tembok itu terlihat eksotis! Hehe... Keren gitu buat background poto-poto! Kaya’ di majalah! Hahaha.... :p (sayangnya gk sempet minta foto2 yg di kamera temen..hiks..)


PULAU SAMALONA

Namanya gak asing kan? Karena ada judul lagu yang pake nama pulau ini. Lagunya sapa ya? Browsing sendiri, mau kan? Hehe....
Kami memang tidak memilih P. Kayangan untuk dikunjungi (di shooting) waktu itu. Pertimbangannya adalah ingin mencari lokasi lain yang masih jarang dikunjungi biar pemirsa gak bosen. Akhirnya dengan bantuan bapak2 dari Dinpar, kami bisa menyewa speedboat ke pulau Samalona. Sewanya waktu itu 1 juta rupiah PP. Waktu tempuh dari Pelabuhan Khayangan sekitar 45 menit saja. Sebentar tapi lumayan bikin jantung berdesir! Mungkin karena speedboat melaju kencang beradu dengan ombak yang rada besar plus ‘bertemu’ dengan kapal2 suepeerrr guedeee lagi mangkal (?). Ugh! Berasa keciilll banget jd manusia. Yang aku ‘rutuki’ saat itu adalah; kenapa aku gak pernah niat belajar renang?! Jadi kan gak perlu khawatir banget kl sedang ada di laut gitu...hiks...
***
Benar saja, begitu akan merapat ke P. Samalona, ikan2 di dasar laut sudah menyambut. Suer! Indah banget!! Air biru kehijauan yang jernih banget itu membebaskan mata ini untuk melihat semua ikan yang ada. Huh...sekali lagi aku menyesal, kenapa gak bisa renang?! :(

Kami segera melintasi pulau ini mencari sudut yang dirasa paling indah, sepi dan enak buat shooting. Maklum, meskipun ‘jauh’ dari peradaban kota, pulau ini juga banyak penghuninya dan banyak pula turis yang stay nyewa rumah untuk beberapa waktu di sana. Jadi pas ‘melintas’ di pulau ini, turis2 itu melambai ramah ke kami (hehehe...berasa artis deeehhh!! Padahal melambainya ke Host kami yg emang artis beneran, hahaha!!).
Melintasi pulau ini gak butuh banyak waktu, wong Cuma kecil kok. Berapa ya luasnya? Satu hektaran mungkin. Kecil kan, utk ukuran sebuah pulau berpenghuni?!
Nah, akhirnya, jadilah host cewek (Trianita) kami minta snorkling di sini. Warga juga nyewain sepatu katak dan alat snorkel loh, 30 ribu satu paketnya. O,iya..sebenarnya ada lagi yang dituju wisatawan di pulau ini, yaitu pohon besar dan makam..siapaaa gitu. Tapi aku sih gak rekomen. Lebih baik nikmati aja pasir putih dan laut birunya, dah! Hehe...

Note : maapppp banget, foto2 gak ada, alasan silakan diliat di postingan "Prolog for Celebes". Nanti kl aku ada waktu cari2 di koleksi temen yg bareng ke sana, pasti aku upload-in deh;)

Kamis, 20 November 2008

PROLOG FOR CELEBES

I'm back!!:)


Ini kenangan hampir dua tahun yang lalu, saat aku, untuk pertama kalinya jalan dengan tim Koper & Ransel. Yang waktu itu bikin sedikit 'shock' adalah, shootingnya langsung ke luar pulau Jawa aja gituuw...ke Sulawesi Selatan dan Tenggara. Duh..duuuhh....sama sekali gak kebayang medannya bakal seperti apa :((


Untunglah, apa yang ditakutkan tidak terjadi. Semua berjalan lancar, dari mulai survey hingga shootingnya. Tidak serumit yang ditakutkan. Ternyata, diri ini menjadi 'cerdas' sendiri di lapangan. Menjadi sangat inisiatif dan cerdik mencari jalan keluar semua persoalan. Menjadi sangat 'brilian' dalam mencari akal. Satu pelajaran berharga : diri kita ini pada dasarnya mandiri dan bisa diandalkan!;>





Planning.



Survey akan aku lakukan bareng sama Campers (mas Ilham) di Sulsel dulu-baru ke Sulra, dan bertemu dg anggota tim yg menyusul kemudian di sana. So, pagi pertama yg kami lakukan setibanya di bandara Hasanuddin, Makassar adalah langsung menuju ke Tana Toraja. Menuju ke yang jauh dulu, begitu pikir kami.



Survey.




Perjalanan dari Makassar ke Toraja memakan waktu sekitar 7-8 jam dengan mobil. Jadi, ketika kami sampai di Toraja, udah hampir maghrib. Survey pun cm bisa dilakukan di desa Kete' Kesu. Cari izin dan info sedikit, trus langsung cari penginapan di tengah kota Rantepao ('ibu kota'nya Toraja). Yang paling populer sih Hotel Indra (ada Indra I dan II). Bukan hotel berbintang, tapi lumayan lah buat istirahat. Hotelnya tingkat dua, nuansanya bambu-bambu gitu. Keluar kamar langsung taman terbuka. O,ya...udara di Toraja tergolong dingin karena dikelilingi pegunungan. Jadi, prepare baju hangat ya!:)



***



Esok harinya, kami langsung geber beberapa lokasi yang udah aku list untuk disurvey dan diambil stockshotnya sama mas Ilham. 'Stereotip' tiap lokasinya sih hampir sama, batu-batuan, simbol keagamaan, leluhur atau mistis! Tentang lokasi2 ini, aku ceritain di judul lain ya..!!



***



Sore hari, kami langsung balik ke Makassar lagi, biar gak wasting time dg perjalanan yg berjam-jam itu. Sampe di Makasar sekitar jam 1 dini hari. Apesnya, hotel2 yg lumayan, pada fullbook! Sapa aja sih, yang nginep??! Akhirnya kami dapet nginep di hotel Angin Mamiri. Hotelnya lumayan...tingkat tiga ato empat gitu, tapi tanpa lift! Bayangkan beratnya ngangkat koperku dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya, karena berisi baju2 dan perlengkapan untuk 12 hari!! Belom lagi kamarnya yg terasa aneh. Maksudku, apa yg salah ya..kamar besar, tapi kok berasa sempit banget!? Apa furniturnya yg salah ukuran? atau tata letaknya? Pokoknya sempiiit aja, padahal interiornya lumayan loh.




***


Pagi harinya, survey Sulsel di mulai. Seperti biasa, kami mulai dari yg jauh dulu, spt ke daerah Bulukumba. Asli, cakep pantainya, cuma jauuhh!! 4 jam perjalanan dg kondisi jalan yg waktu itu separuhnya rusak! Cuma maap, nanti gak ada foto2 pantai Bulukumba yg berair biru dan berpasir selembut tepung, karena HP ku yg buat foto2 di Sulsel-Sulra itu rusak...lalu file2nya hilang...hiks :(( Jadi foto2 yg nanti ada adalah hasil ngopy dari punyanya mba Ifa, my Assprod.

Hari berikutnya yg cuma tinggal setengah (karena hrs ngejar pesawat 'kecil' menuju Kendari), kami gunakan utk survey dan stockshot kota Makassar dan sekitarnya yg deket2.


***

Sampainya di Kendari, yg kami lakukan adalah cari penginapan karena hari telah beranjak malam, jd gak mungkin survey lokasi. Ternyata lumayan 'sulit', karena Kendari adalah kota kecil. Gak bermaksud cari hotel mewah sih, cm lebih berhati2 aja...takut dpt hotel 'nakal' hahaha.. (ada pengalaman 'unik' tersendiri ttg ini di Makassar, yg gak mungkin dicritain gamblang. Yg jelas, jgn tergiur harga hotel murah kl hasilnya kita jd gak tenang istirahat! Secara ya, kamar sebelah ajeb2 dg suara obrolan cowok - cewek cekikikan gitu..gmn bs tenang coba?! huehehe.... NOTE : bukan di Angin Mamiri, tp satu hotel 'aneh' lg yg kami inapi sekembalinya dr survey Toraja).


Pagi harinya, kami survey Kendari...tentu saja dr lokasi yg jauh dulu...
Emm...nama2 lokasi banak udah lupa nih, harus buka2 catetan dulu :p
Ya wis, langsung aja baca2 critanya en liat poto2naaa !!! :D


Senin, 11 Agustus 2008

CIAMIS ITU, SEBELAH MANANYA PANGANDARAN???

Denger kata Pangandaran, pastilah pantai yang terbayang. Yup! Memang itulah wisata andalan kecamatan ini. Kecamatan? Yup! (lagi) aku aja heran, ada kecamatan kok luasnya segambreng! Tapi bakal heran lagi kalau tau berapa luasnya kabupaten Ciamis (cari di google aja deeehh!) Buseeettt, dah....luas banget!:p
***
Setelah ‘rehat’ beberapa bulan dan pegang program lain, EP ku menugaskanku untuk shooting Koper & Ransel ke Pangandaran. Sebenernya udah pernah, tapi emang mau diliput lagi, sambil nambahin lokasi2 baru kalau ada. Jadi mikir, Indonesia yg luas aja, lokasi wisatanya udah berkali-kali kami liput, gimana dengan Singapore, Brunei atau Vatikan, ya?! Pusing kayanya jadi tim Kreatif di TV sana hehe...

PANTAI PANGANDARAN DAN KERAMAHAN
Dua tahun yang lalu (tepatnya 27 Juli 2006), pantai ini terkena tsunami. Bangunan hotel dan rumah di sekitar pantai pun banyak yang hancur. Makanya waktu mau balik ke lokasi ini, sempet mikir...udah pulih belom, ya... Tapi dari informasi beberapa teman dan kakak yang kebetulan berdomisili tak jauh dari sana, bisa dipastikan bahwa pantai ini sudah layak untuk dikunjungi wisatawan. Berangkaaatt!
***
Jam 6 pagi, kami berangkat dari kantor. Dengan bekal kantuk setumpuk, mudah sekali menghadirkan mimpi di sandaran mobil ELF yang melaju kuenceengg (katanya tidur, ko tau kl kenceng?). Setelah beberapa kali berhenti untuk pipis (hihi...:p) , kami tiba di gerbang pantai Pangandaran sekitar pukul 12.30 WIB. Tuh, kan bener kenceng....Cuma 6,5 jam dari Jakarta!! Itu pun pake brenti2 segala! Petugas2 di pintu masuk ramah banget! Semuanya ‘sadar’ kalau promosi itu penting! Apalagi ini juga dalam rangka menyukseskan Visit Indonesia Year 2008! Bahkan mereka memberikan rekomendasi dan izin sekaligus kalau kami ingin meliput lokasi wisata yang lain. Seeeeppp, dah!! :D

Pantai Pangandaran termasuk dalam deretan pantai selatan jawa. Ombaknya besar, pantai nya landai dan berpasir hitam. Termasuk bersih untuk ukuran lokasi wisata pantai di pulau Jawa. Di sini kita bisa berenang, main pasir, naik ATV, atau menyewa sepeda tandem untuk menyusuri pantainya. Murah kok, sekitar 15 ribu / jam sewanya. Siap2 aja disapa ramah oleh masyarakat sekitar yaa!:)

Di sepanjang jalan tepian pantai, sudah banyak penginapan yang beroperasi. Bahkan sampai masuk ke gang-gangnya pun, banyak bangunan yang ternyata juga penginapan. Ada yang modelnya petakan kaya’ kos-kosan, ada yang kaya’ rusun, ada juga yang bener2 rumah dan disewakan. Jadi kata sodaraku yang orang sana, kalau weekend atau musim liburan, penduduk sekitar memang sering menyewakan sebagian ruangan rumahnya untuk wisatawan, sementara mereka ‘bergeser’ ke dapur atau ruang belakang rumah untuk aktivitasnya. Ah, orang Indonesia....apaaaa aja bisa jadi uang! Hehehe.....

Yang hobi belanja souvenir, gak usah khawatir. Layaknya lokasi wisata, di sini juga banyak penjual cinderamata khas Pangandaran, seperti aksesoris, hiasan dinding dari kerang, baju2 pantai, dll. Selain di sepanjang jalan pantai barat, ada juga di ujung timur pantai (dekat pintu barat cagar alam Pananjung). Nah, kalau mau yang komplit, dateng aja ke Pasar Wisata nya. Nawarnya gak perlu banget2 kok, soalnya harga yang mereka tawarkan juga gak tinggi2 amat, alias sudah mendekati perkiraan kita akan harga suatu barang! (halah...bahasanyaa...). Misalnya nih, jam dinding dari pasir dan kerang 30–35 ribu dan celana kaos pendek/selutut; 15-25 ribu ajaaa (tergantung ukuran).


(Pasar Wisata Pangandaran)
Wisata pantai gak lengkap tanpa makan seafood! Untuk yang satu ini, pusatnya ada di sekitar Jl. Pasar Ikan, Pantai Timur Pangandaran. Yang terkenal banget tuh, ada RM Karya Bahari. Uenak-ueeenak seafoodnya, bisa milih ikan segarnya sendiri, pelayanannya oke, trus kalau harganya....eemm, yang tau UPM ku, aku kan tinggal makan aja hehehe.....

O-iya, ngomongin soal pantai timur, bagian ini oke juga loh! Ada sisi dimana tepi pantainya sudah di dam (bener gak nulisnya? Pokoknya diperkuat dengan batu & semen gitu deeh..), ada juga yang masih bener2 pantai pasir. Pasirnya putih lagi! Nanti bahasnya di sesi Pananjung, yah!;) Niii...foto2 Host kami waktu mau take built in product handphone...keren, ya! (Kerenan mana sama yg moto? :p)


(Joe & Andrea di Pantai Timur Pangandaran)

CAGAR ALAM PANANJUNG DAN ‘MISTERI TAK BERUJUNG’ (ciee..)

Standarnya cagar alam, yang ada ya pepohonan besar layaknya hutan! Kita bisa masuk dari beberapa pintu. Pintu barat itu yang dekat dengan pantai pangandaran. Begitu masuk gerbang, ada monyet2 yng menyambut. So, hati2 dengan barang bawaan. Kalau ada makanan yg gak pengen dibagi ke mereka, lebih baik disembunyikan saja. Jalanannya pun langsung menanjak, dan kita bisa melihat ke arah pantai dari ketinggian. Kalau lewat pintu timur, aksesnya lebih mudah. Jalanan setapaknya pun sudah dikeraskan. Ada satu lagi pintu masuk, yakni menyeberang dengan perahu ke pantai pasir putih Pananjung. Pantai pasir putih ini juga terlihat kok dari pantai pangandaran. Dan banyak pula bapak-bapak pemilik perahu yg menawarkan jasa penyeberangan.

Yang menarik di Pananjung ini adalah keberadaan goa-goa alamnya. Jumlahnya sekitar 7-9 buah. Kalau punya betis yang kuat dan semangat 45, silakan menjelajahi hutan ini dan memasuki semua goa nya!:) Waktu shooting kemaren, kami masuk dari pintu barat (karena disesuaikan dg ‘jalan cerita’ yg kubuat hehe...). Dari pintu barat ini yang terdekat adalah Goa Jepang. Goa ini lebih mirip bunker. Maklumlah, tentara Jepang memang menggunakannya sebagai tempat persembunyian. Jadi, bisa dibilang ini goa ‘setengah’ alam, menurutku!:p
Setelah melintasi pohon2 besar, kami sampai di situs Batu Kalde. Ini adalah simbol sarana ibadah umat Hindu jaman kerajaan Galuh Pangaoban dulu, yang katanya berpusat di hutan ini. Semakin masuk ke dalam, pilihan terserah anda dan pemandu (suer..sangat dianjurkan memakai jasa pemandu kalau gak mau tersesat), mau ke Goa mana. Pilihan kami, jatuh pada Goa Lanang alias Mak Lampir. Katanya, di lokasi inilah shooting film / sinetron (?) Mak Lampir pernah dilakukan, jadi wajar kalau nama alisnya adalah Goa Mak Lampir. Sementara disebut Goa Lanang, karena di dalam goa yang tembus ke sisi lain hutan ini, ada batuan yang jika diamati menyerupai sosok laki2 lengkap dengan alat kelaminnya (hohoho...). Di dalam goa juga ada stalagtit yang jika dipukul2 menimbulkan nada-nada berlainan. Kaya alat musik perkusi gitu, deh.

(Situs Batu Kalde)

(Goa Lanang)
Dengan alasan kebutuhan shooting, kami perlu cari something different di sini, gak melulu goa (karena bagaimanapun, look nya Goa ya seperti itu! Hehehe...). Akhirnya, sambil berjalan arah keluar, kami mampir di sebuah pantai, dibalik ‘rimbunnya’ goa (goa apa ya...Goa Parat kalau gak salah..hihi...), yang ternyata berpasir putih! Tapi ini bukan pantai pasir putihnya Pananjung loh, ini bagian lain dari pantai timurnya pantai Pangandaran (oh, semoga pembaca yang budiman gak bingung...). Di sini banyak banget perahu nelayan. Akhirnya, Joe Richard (host Ransel), kami daulat untuk berinteraksi membantu nelayan mendorong perahu dari laut (punten ya, Joe!:p). Seneng deh, lihat hasil tangkapan para nelayan itu. Udangnya banyak, ikannya besar2....Indonesia memang kaya!

(Pantai timur Pangandaran)
( dr dalam goa)

(Ayo dorong, Joe!!)

PANTAI BATU KARAS DAN SURFER SUPER PANAS (hohoho....)

Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit naik mobil dari pantai Pangandaran ke pantai Batu Karas ini. Lokasi tepatnya di desa Batu Karas, Cijulang, 34 km arah barat dari Pangandaran. Karakter pantainya mirip dengan Pangandaran, cuma lebih landai dan luas. Trus, di sisi kanannya ada bukit karang yang sedikit memberikan nuansa beda. Belum lagi banyaknya mas-mas yang surfing. Wooo...pokoknya mata ini puass!!hehe.. :D Ombak di pantai Batu Karas ini memang sudah terkenal asik untuk surfing. Jadi, di tepian pantai juga banyak persewaan papan selancar dan bodyboard. Kalau mau sewa sekalian belajar surfing juga bisa. Anak pantai di sini jago2! Mau yang masih kecil atau sudah dewasa, semuanya item, eh..jago surfing maksudnya ;> Hati-hati dengan ubur-ubur ya! Kalau terkena kulit bisa gatal dan bentol2.

Di sekitar pantai ini juga banyak penginapan, meski gak sebanyak di Pangandaran. Tapi bentuk dan bangunannya oke, ko! Turis bule banyak yang menginap di sini. Satu yang terkenal adalah JavaCove Beach Hotel. Yang punya orang bule juga, tapi jago bahasa Indonesia. Kalau mau nginep di sini, baiknya reservasi jauh2 hari, soalnya jumlah kamar terbatas dan laris, bo! Telpon aja ke: 0265-7093224 atau e-mail di info@javacovehotel.com kalau lagi gak ada gangguan dengan website nya. Dari penginapan tsb, kita sudah bisa melihat pantai. Jadi tinggal jalan kaki deh! O,iya...karena room di JavaCove kebanyakan besar, jadi cocok banget buat kamu yg liburannya bareng2 temen atau keluarga.

(Pantai Batu Karas)

(Mas surfeerr, balik doong!)

(Karang di Batu Karas. Aku manaa..)

(A.a..a...a..aa..anak pantaiii...)

(Freeze, Joe! JavaCove behind)

(Nunggu sarapan di halaman hotel)

GREEN CANYON DAN RENANG NGAMBANG (hhihihi....:p)
Ini tempat paling populer kedua setelah pantai Pangandaran, menurutku. Sebenarnya, kalau mau ke Batu Karas, kita juga melewati Green Canyon ini (nama Sunda'nya Cukang Taneuh). Hijaunya air sungai Cijulang memang terlihat sejuk di mata. Wisata menyusuri sungai ini bisa kita lakukan dengan menggunakan perahu motor sewaan (ya iyalah...masa naik kebo!). Ongkos sewanya 62.500 rupiah/ perahu dan bisa ditumpangi hingga 5 orang (tidak termasuk 2 awak perahu). Kalau tiket masuk obyek, per orangnya 12.500,- aja.

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai yang airnya berwarna hijau, kita bisa melihat ‘tebing’ sungai di kanan-kiri kita plus pepohonannya, yang entah bagaimana terasa indah dilihat. Diam-diam aku kembali kagum sama Indonesia, setiap sudut alam yg ada ternyata indah dan potensial untuk jadi obyek wisata. Plis deh, ini kan sebenarnya CUMA SUNGAI! Subhanallaah...

Setelah kurang lebih 15 menit menyusuri sungai, kita akan tiba di sebuah ‘goa’. Sebenarnya lebih tepat jika dibilang tebing bolong. Soalnya goa ini gak beratap, alias tembus ke langit atas dengan tebing tinggi di kanan-kirinya yang terus meneteskan air sehingga berasa hujan tiap hari. Lalu ada batuan (karang?) yang seolah membendung aliran sungai ini, hingga membentuk laguna. Jadi sebenarnya sungai Cijulang (Green Canyon) ini masih panjang untuk sampai ke muara (laut). Mau berenang? Sok atuh.... karena suasana dan ‘penampakan’ airnya memang menantang untuk diselami! (halah...). Ada bagian yg dangkal (hingga kita bisa melihat dasar sungai dari kejernihan ‘air hijaunya’), ada juga yang dalam. Tapi gak perlu cemas, awak perahu biasanya membawakan pelampung untuk kita pinjam. Gratis kok! Mereka malah dengan senang hati menunggu kita jika ingin berenang. Dan akhirnya, daku pun renang..dan mengambang! Hehehe...pelampungnya hebat, euy! Secara aku gk bisa renang, jd tuuakkutnya minta ampun. Eh, begitu nyebur, kok gak tenggelam :p (Hahahaha...noraxxx!!). Nanti, foto2 renangku (apa pose mengambangku, ya?) yg di kameranya mba Gamme, aku upload juga deh, pamerrr...hihi...

(Goa di Green Canyon)

(laguna hijau di Green Canyon)

Rabu, 26 Desember 2007

PANTAI AJAIB DI BANGKA-BELITUNG

Ada yang pernah ke Pulau Bangka-Belitung?
Pasti bakal sepakat kalau dibilang pantai-pantai di sana amazing!! :)
Suer! Selama keliling ke beberapa pantai di Indonesia, kebanyakan yang ada adalah pantai karang atau gak ada batuannya sama sekali. Tapi di Babel, kita bisa nemuin batuan tumpukan batuan granit dengan ukuran raksasa yang uindaaahh bangett!! (hiperbolis gak sih?hehe)

Bangka-Belitung itu masih satu propinsi. Kota kabupaten Bangka adalah Pangkalpinang, sementara Belitung adalah Tanjungpandan. Secara keseluruhan, dua pulau ini punya karakter yang sama. Hanya, Bangka lebih ramai menurutku.
Okey, sekarang langsung ngomongin obyek wisatanya! Bangka dulu yaw!

BANGKA

Jarak dari satu pantai ke pantai lainnya di Bangka, tidak terlalu jauh. Paling cuma 10 - 15 menitan. Dari pusat kotanya juga deket. Jadi bisa dibilang, Pangkalpinang itu kota pantai hehe...
Pantai yang paling populer adalah Pantai Parai Tenggiri. Pantai ini dilengkapi fasilitas hotel (Hotel Parai) yang merupakan the best hotel in town dah!:) Bahkan, Ayu Azhari aja 'menobatkan' pantai ini sebagai tempat liburan favorit keluarganya.


Emang bagus banget sih! Begitu masuk kawasan hotel, langsung terlihat hamparan batu granit yang enak banget dilihat, yang langsung nyambung ke pantainya . Trus, nanti di balik bangunan hotel, kita akan menjumpai pantai pasir putih plus batu2 granit lagi. Buat yang mau berenang, main banana boat, kano atau parasailing, hotel ini menyediakannya. Tinggal sewa alatnya, beres deh! Ada instrukturnya juga kok. Oh, iya...konsep hotel ini adalah resort. Jadi silakan pilih, rumah2 mana yang ingin diinapi :)

Selain pantai Parai, Bangka masih punya banyak pantai indah yang jaraknya saling berdekatan, seperti Pantai Matras yang dijuluki ‘pantai surga’. Pantai ini landai dan luas. Air lautnya biru kehijauan. Di salah satu sisi pantai, mengalir anak sungai diantara bebatuan granit. Infrastruktur yang ada hanyalah gardu pandang dan beberapa ‘halte’ untuk duduk2 memandang pantai. Bangunan toilet juga terbengkalai. Sebenarnya ada juga pos penjagaan, tapi sepertinya tidak berfungsi maksimal. Jalanan aspal di sepanjang pantai ini memudahkan kita menyusurinya tanpa harus turun dari kendaraan.





Pantai Tanjung Pesona, lain lagi. Di pantai ini terdapat juga hotel dengan konsep resort, yaitu Tanjung Pesona Beach Resort. Beberapa bangunan penginapan berhadapan langsung dengan laut. Untuk menikmati birunya air Tanjung Pesona ini, kita bisa berjalan di jembatan yang dibangun menjorok ke laut atau menyusuri pasir putih di depan kamar. Tumpukan batuan granit tetap menjadi pemandangan yang indah dan menakjubkan di sini. Oh, iya…hotel ini juga punya fasilitas bermain untuk anak-anak, jadi cocok untuk liburan keluarga.

Pantai-pantai indah lainnya yang tetap mengandalkan kebersihan pasir putih dan kumpulan batuan granit raksasa adalah Pantai Batu Bedaun dan Pantai Teluk Uber. Aku terkesan banget sama suasana pantai Teluk Uber. Mungkin karena waktu itu kami (tim Koper & Ransel) datang pagi-pagi sekali untuk menyambut matahari terbit, jadi suasananya sooooo exotic!!! Hening…tenang…segar…bersih….indah! :)



Semua pantai2 itu terletak di Sungailiat sekitar 30 menit dari pusat kota Pangkalpinang. Masih banyak pantai lain di Bangka, tapi kami memang tidak kesana karena keterbatasan waktu.

Sekarang ngomongin oleh2. sayangnya, Bangka tidak memiliki pusat penjualan oleh2, seperti Malioboronya Jogja atau sepanjang jalan menuju Kuta Bali atau Rajapolahnya Tasikmalaya. Jadi, kalau mau cari oleh2, ya harus ‘jeli’ melihat toko2 tertentu yang menjual barang khas itu. Yang paling khas dari Bangka ya, Pewter, kerajinan berbahan timah campuran tembaga dan antimony. Harganya lumayan mahal sih, dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Perajinnya juga terbatas, paling banyak di produksi oleh PT Timah di jalan Jend. Sudirman, Pangkal Pinang. Perusahaan ini memiliki workshop yang juga men-display souvenir berbahan pewter. Oleh2 khas lainnya adalah kain cual dan kopiah resam. Pusatnya ada di Ishadi craft, Pangkal Pinang.

BELITUNG

Kalau mau ke Belitung dari Bangka, kita bisa lewat jalur laut dan udara. Transportasi air (laut) bisa ditempuh dengan menggunakan jetfoil satu-satunya yang beroperasi setiap hari di sana. Jadwal keberangkatan jetfoil ini hanya pada jam tertentu, jadi harus benar2 diperhatikan kalau tidak mau ketinggalan :
Dari Bangka ke Belitung, jetfoil hanya berangkat pada pk. 14.00 WIB.
Sementara dari Belitung ke Bangka, jetfoil hanya berangkat pada pk. 07.00 WIB.
Perjalanan akan ditempuh selama 4 jam!! Ada kelas ekonomi – VIP. Kalau mau nyaman, ya di kelas VIP. Harga tiket juga gak mahal2 amat, Cuma Rp 175.000,- / orang. Tempat duduknya besar, nyaman dan ada di lantai atas jetfoil ini, jadi goncangan di tengah laut gak begitu terasa…paling2 kalau ombaknya besar aja rasanya jadi kaya naik metromini lewat jalanan gak rata hehe…. Selain fasilitas karaoke dan snack, aliran udara dari AC benar2 bikin udara dalam ruangan dingin. Jadi, siap2 bawa jaket tebal atau selimut. Suerrr!!!



Transportasi udara bisa dilakukan hanya pada hari Sabtu, Minggu dan Senin. Jadwal keberangkatan pesawat :
Sabtu & Minggu : pk 13.00 WIB dan pk. 15.00 WIB
Senin : pk 09.20 WIB
Jadi teteupp, perhatikan benar jadwal2 di atas, kalau gak mau ketinggalan pesawat.
Ada sedikit pengalaman yang menurutku lucu. Waktu kami mau pulang ke Jakarta dari Belitung, kami barengan sama dua mbak2 yang ternyata mau ke Bangka. Karena mereka ogah naik jetfoil dan hari itu jg gk ada jadwal pesawat udara yg langsung dr Belitung – Bangka, maka mereka memilih transit di bandara Soekarno-Hatta Jakarta dulu, baru ke Bangka. Busyeett dah! :)
Sekarang, mari kita mulai bahas wisata di Belitung.
Gak beda jauh sama Bangka, Belitung juga menjanjikan pantai2 indah dengan pasir putih dan batuan granit. Karena waktu di Belitung gak lama plus cuaca hujan mulu, gak banyak lokasi outdoor yang bisa kami ekspose. Salah satu pantai yang terdekat dengan hotel Lor In tempat kami menginap adalah Pantai Tanjung Tinggi. Air laut hijau kebiruan di pantai ini membentuk satu laguna indah dengan batuan granit di sekitarnya. Ada juga beberapa perahu nelayan yang bersandar. Sayangnya, nelayan ini kurang aware sama lingkungan cantik ini. Kenapa? Karena kami menjumpai ‘kotoran manusia’ di balik batu2 besar itu. Huekkk!!! :(




Kampung nelayan Bugis mungkin tempat yang populer dikalangan wisatawan.
Kampung ini memang unik, letaknya di Belitung, tapi warganya adalah orang Bugis yang sudah beranak-pinak sejak lama. Mata pencaharian mereka adalah mencari ikan. Mostly dibikin ikan asin dan ‘diekspor’ ke Jakarta. Nah lho!!:)



Ini nih, yang paling terkenal dari Belitung : Batu Satam alias batu meteor.
Batu hitam ini termasuk langka karena Cuma ada di 5 tempat di dunia, salah satunya di Belitung! Udah gitu, nyarinya susah pula. Dan satu2nya perajin di sini adalah Pak Firman di Pangkal lalang, Tanjung Pinang. Orangnya ramaaaah banget. Baik pula! Soalnya kami dikasih batu Satam gratis hehehe. Padahal, batu satam ini mahal loh! Apalagi kalau sudah dibuat perhiasan. Biasanya batu ini dijadikan hiasan tongkat komando para Panglima ABRI. Satu pesen yang beliau tekankan ke kami2 adalah, jangan pernah menganggap batu itu sebagai sesuatu yang ‘keramat’ atau sakti. Pokoknya jangan sampai jadi musyrik, meskipun mungkin ada manfaat2 tertentu yang kita dapat!! Oke deh, paaakkk! :)

Tambahan tentang Belitung. Kotanya termasuk kota sepi. Apalagi kalau malam, penerangan jalan raya pun di titik2 tertentu saja, jadi gelap euy! Trus, soal makanan juga kebanyakan sea food (ya iyalaaahh!!). Penginapan juga lumayan banyak di kota, meski kelas melati, tapi bersih kok. Malah yang berbintang yg aku rasa kurang nyaman. Mungkin karena letaknya jauh dari kota dan jarang orang menginap, ko kesannya jadi gak bersih gitu deeeehhh, padahal hotelnya bagus loh! Humm…nanti kalau aku punya uang banyak, aku bikin hotel2 cantik di Bangka atau Belitung! Amiinn :)

Sekian dulu yah, cerita Babel nya. Tar kalau ada yg kurang dan tiba2 inget, aku tambahin lagi. Tunggu ceritaperjalanan berikutnya! ting! ;>

Jumat, 07 Desember 2007

LAST EDITION IN PALANGKARAYA

Sedihnya..., Palangkaraya harus jadi episode terakhir buatku di Koper & Ransel. Waktu 6 bulan ternyata gak cukup bikin puas hati menikmati Indonesiaku. Hiks..hiks...mudah2an nantinya dapet program jalan2 lagi!hehehe...

PALANGKARAYA KOTA CANTIK
Gak begitu paham juga kenapa kota ini dapet julukan sebagai Kota Cantik, tapi positif thinking aja bahwa nama itu adalah do'a!hehehe....

Mungkin karena tata kotanya bagus dan jalanan di kota ini lebar-lebar serta bersih. Tapi kalau untuk cuaca, dijamin puanass!! Makanya, bawa sunblock, topi atau payung sekalian!:)

SUNGAI & JEMBATAN KAHAYAN

Sungai ini melintasi kota Palangkaraya. Lebar banget! Sesuai karakter sungai-sungai di Kalimantan. Warna airnya coklat keruh. Katanya, itu karena ada erosi yang disebabkan oleh penebangan hutan yang dijadikan perkebunan sawit. Tapi biarpun warnanya coklat, menurutku sungai Kahayan termasuk bersih...bebas dari sampah-sampah, yang biasanya ada di sungai-sungai Jakarta!:p

Sungai ini menjadi jalur transportasi juga. Perahu dayung maupun bermesin lalu lalang di sini. Ada juga rumah-rumah terapung (lanting) yang dihuni oleh masyarakat sekitar. Semua ini bisa juga kita lihat dari atas jembatan Kahayan. Oh, iya..balik lagi soal rumah terapung, Joe, Host kami bilang gini; "Enak, ya kalau punya rumah terapung. Kalaupun hujan deras gak bakal kebanjiran, karena pasti ikutan terangkat rumahnya. Nanti tinggal mengabarkan posisi aja... ada di ketinggian berapa meter di atas air! hehehe"

TAMAN WISATA KUMKUM
Lokasinya sekitar 500 m dari Jembatan Kahayan. Jadi kalau dari pusat kota, paling 10 menit aja. Asik banget tempatnya! Adem! Karena emang dulunya wilayah ini adalah hutan tepi sungai, jadi masih ada pohon-pohon besar sebagai pelindung dari terik matahari.



Tiket masuk ke lokasi ini RP 2000,- / orang. Di dalam ada pondok-pondok semi terbuka yang bisa disewa untuk tempat makan. Biaya sewanya Rp 6.000,- / 2 jam pertama, selanjutnya Rp 3.000,- / jam untuk weekdays. Sedangkan kalau weekend atau hari libur, sewanya Rp 15.000,- / 2 jam pertama dan selanjutnya Rp 7.000,- / jam. Maklum, kalau hari libur atau weekend, lokasi ini ramai dikunjungi. Biasanya sih, keluarga..karena di sini ada arena bermain untuk anak dan beberapa koleksi hewan. Tapi kalau gak mau makan di pondokan2 juga gak apa2 ko, karena ada banyak deretan meja dan bangku panjang yang siap digunakan. Jalanan dari kayu ulin yang dibuat panggung, semakin mempercantik lokasi ini.

Sungai Kahayan jelas banget dari sini, karena memang Taman Wisata Kumkum benar-benar ada di tepinya. Lalu-lalang perahu sudah pasti terlihat dan jadi pemandangan yang lumayan bisa menyegarkan mata-mata yang ngantuk karena hembusan sepoi angin hutan...:)

Akhirnya, makanan yang ditunggu datang juga! Jadi, kalau mau pesen ikan Patin bakar (laut atau pun sungai....mahalan yg Patin sungai ding), harus dari awal dateng! Karena masaknya lama bo! Katanya sih, karena ikan ini banyak punya lemak, jadi harus benar-benar 'dihabiskan' dengan cara dibakar seeeemateng-matengya! Pasangannya adalah sambel mangga. Rasanya sedikit kecut (ya iyalah..). Trus, yang khas Kalteng adalah Sup rotan muda. Ada juga sup umbut kelapa. Kedua makanan ini rasanya segar manis!(kaya yg nulis;>). Pokoknya, satu paket makan siang seperti ini, ditambah air mineral dan buah, adalah sekitar Rp 30.000,- . Buat yang gak minat sama makanan2 di atas, jangan putus asa karena ada banyak pilihan menu di sini.

DORONG SOUVENIR DI JALAN BATAM!
Jogja punya Malioboro, Bali punya Pasar Seni Sukowati, Balikpapan punya Pasar Inpres Kebun Sayur, dan Makasar punya jalan Somba Opu untuk pusat oleh-oleh khas dan barang-barang kerajinan. Nah, kalau di Palangkaraya, semua itu ada di Jalan Batam. Di sini ada dereten toko-toko souvenir. Jadi yang mau cari cinderamata miniatur kapal dari getah Nyatu, Mandau, aksesoris batu-batuan (termasuk batu kecubung yang jadi andalan) atau manik-manik yang dibuat menjadi aneka barang (kalung, dompet, tas, gantungan kunci, dll), silakan mampir kesini. Soal harga, variatif lah....standarnya sebuah pusat oleh-oleh, ya ada yang murah-ada yang mahal...yang pasti bisa ditawar!! hehe... Kalau mau, cek dulu ke beberapa toko untuk memperkirakan harga pastinya, supaya gak nyesel kalau beli banyak buat oleh2. Selisih seribu per-item lumayan kan?!:p Eh, iya ada Kerupuk amplang juga loh!;>

DANAU TAHAI
Waktu tempuh ke danau ini sekitar 30 menit. Letaknya berdekatan dengan arboretum Nyaru Menteng. Arboretum Nyaru Menteng sendiri adalah kawasan hutan buatan yang sayangnya sudah gak terawat, menurutku. Kalaupun ada hal menarik di sana adalah adanya tempat rehabilitasi Orangutan. Tapi, ini bukan lokasi wisata. Jadi jangan harap bisa masuk kesana dan bermain-main dengan orangutan. Harus ada surat2 izin resmi dari kantor BOS pusat dan hasil cek kesehatan diri. Tapi kalau kekeuh mau liat orangutan juga, mereka menyediakan pusat informasi, dimana kita bisa melihat beberapa orangutan dari balik kaca di dalam bangunan rumah dekat kandang orangutan tsb.

Balik lagi ke danau Tahai. Danau ini kalau dilihat lama-lama....bagus juga!hehe....

Yang bikin bagus, ya jembatan2 kayu dan pohon2 bakau di danau ini. Alami banget! Pantesan banyak yang pacaran di sini. hehehe....

Air danau Tahai warnanya coklat pekat, kaya air teh kental, yang disebabkan oleh akar pepohonan bakau. Disini ada persewaan perahu bebek dan perahu kayu, per-jam nya sekitar Rp 10.000,- saja. Trus ada juga rumah2 terapung, yang katanya itu adalah vila2 yg bisa disewakan. Kalau aku sih, gak tertarik. Selain banyak nyamuk, kondisi itu villa ko meragukan ya?!:p

BUKIT BATU
Awas, jangan sampai salah lokasi, tiga tempat ini berbeda meskipun berdekatan : Bukit Tangkiling, Batu Banama dan Bukit Batu.

Taman Cagar Alam Bukit Tangkiling yang sempat aku datangi kondisinya juga sudah gak terawat lagi. Semak belukar dan sisa-sisa bangunan warung dari bambu semakin membuat kotor taman di cagar alam ini. Karena hopeless, Batu Banama yang katanya ada di sekitar lokasi, urung aku datangi. Apalagi dapat informasi kalau batu yang menyerupai perahu itu sudah penuh coretan gak penting! Jadi lebih baik melanjutkan perjalanan ke Bukit Batu saja. Waktu tempuh dari titik nol Palangkaraya sekitar 50 menit aja! Letaknya, persis di kanan jalan, jalan raya Palangkaraya-Sampit. Kelihatan ko' dari jalan raya yang kita lewati.

Bukit Batu ini fenomenal, menurutku. Selain banyak mitos tentang batu-batu yang ada, 'kehadiran' batu-batu besar di lokasi ini juga aneh, karena disekitarnya gak ada gunung bo! Trus, darimana dong?! Jangan2 emang beneran turun dari langit, kaya yg dilegenda Burut Ules ya?? :) Yang jelas, batu-batu super besar ini enak dilihat. Amazing aja lihat bentuknya. Apalagi, disini ada lokasi pertapaannya Tjilik Riwut, mantan gubernur pertama Kalimantan Tengah. Ada juga tempat peristirahatan Tjilik Riwut, yaitu pada batu yang berbentuk datar dengan pelindung batu lain sebagai atapnya. Unik deh! Nah, dari atas Bukit Batu ini, kita bisa melihat pemandangan alam sekitar yang hijau dan segar. Pokoknya bakalan refresh pulang dari sini!;>

Kalau mau masuk ke lokasi selain hari libur, lebih baik menghubungi pengelola yang tinggal di belakang bukit Batu ini, biar dibukain gembok pagarnya:)

OWA-OWA DI PULAU HAMPAPAK
Setelah 'tidak berhasil' melihat Orangutan yang direhabilitasi di Nyaru Menteng, aku n tim dapet kesempatan mengunjungi pusat rehabilitasi Owa-Owa milik Kalaweit Care Center (Kalaweit = Owa-Owa-dlm bhs Dayak).

Pak Chanee, Pendiri sekaligus Direktur yayasan ini, dengan baik hati menawarkan speedboatnya untuk perjalanan kami, tim Koper&Ransel ke Pulau Hampapak. Tapi, karena kecil, kami memilih menyewa speedboat yang lebih besar agar semua kru bisa ikut. Sebenarnya, Pulau Hampapak dan rehabilitasi Owa-Owa nya ini juga bukan obyek wisata. Tapi karena kami ingin mendukung pelestarian satwa yang dilindungi juga, Pak Chanee mengizinkan kami meliput Owa-owa ini dengan beberapa syarat yang harus dipatuhi saat di lokasi nanti.

Speedboat mulai meninggalkan dermaga Pol.Air di jalan Kalimantan, dan mulai menyusuri sungai Kahayan. Semakin jauh, semakin indah saja pemandangan sekitar sungai yang bisa kita lihat. Apalagi ada rambu-rambu lalu lintas perahu di tepi sungai, yang menurutku unik plus lucu! hehe...

Air sungai kahayan yang coklat keruh, segera berganti coklat teh ketika akan memasuki sungai Rungan. Transisi warna dua air ini jelas terlihat dan unik banget!!

Hampir 30 menit di atas speedboat, kami pun segera memasuki kawasan Danau Hampapak. Welcome to Kalaweit Care Center!

Begitu speedboat menepi, suara Owa-Owa langsung terdengar. Tapi, yang pertama kali kami jumpai adalah kandang Beruk. Kandang Owa-owa ada di dalam hutan pulau ini, kata Pak Chanee. Kami pun segera menuju 'kantor' Kalaweit di sini, dan mengenakan masker penutup hidung-mulut, agar tidak saling menularkan penyakit dengan Owa-Owa di sini. Penelusuran hutan pun dimulai....

Owa-owa yang ada di sini, jumlahnya 170 ekor. Mereka diperoleh dari hasil sitaan negara terhadap masyarakat yang semula memeliharanya dan ada juga yang diserahkan secara sukarela oleh warga. Mirisnya, di sini ada Owa-Owa yang didapat dari 'reruntuhan' hutan yang dibakar liar, sehingga kondisi fisiknya cacat.

Owa-Owa ini hewan monogamis. Ia akan kawin sekali sampai mati! Kalau pasangannya mati duluan, pasangan yang hidup akan depresi dan tak berapa lama juga akan mati. Makanya, mereka tidak beranak-pinak banyak. Jadinya langka deh! Apalagi kalau dipelihara manusia, usia mereka bisa lebih singkat, sekitar 7 tahun saja. Padahal kalau di hutan bebas, mereka bisa hidup sampai 30 tahun! Di hutan, mereka tidak pernah menginjak tanah. Hidupnya selalu bergelantungan dari pohon ke pohon. Karena itu, kalau pohon2 di hutan pada ditebangin, dimana lagi mereka akan hidup??? hiks...
So, jangan pelihara hewan2 yang dilindungi di rumah ya! Biarkan mereka bebas di alamnya :)

Ternyata, sudah banyak juga yang berkunjung ke pulau ini. Biasanya sih dari kalangan wartawan atau pun mahasiswa yang tengah melakukan penelitian. Kontak dengan manusia memang diminimalisir, agar proses rehabilitasi Owa-Owa ini berjalan cepat. Namun, keterlibatan manusia masih diperlukan, setidaknya untuk membuat mereka survive dulu.
Thanks buat Pak Chanee en staff yang super ramah!:)
FYI, Pak Chanee ini orang Perancis yang sejak umur 18 tahun sudah ke Indonesia, demi cita2nya menyelamatkan Owa-Owa dari kepunahan.
Can we do the same thing for our lovely country??

(Jakarta, 14 Desember 2007)